Kenya Konfirmasi Kasus Ebola Kedua, Pasien Merupakan Kerabat Dekat Kasus Pertama

Redaksi OLN MediaJumat, 16 Oktober 2026 · 17.02 WIB · 2 menit baca
Kenya Konfirmasi Kasus Ebola Kedua, Pasien Merupakan Kerabat Dekat Kasus Pertama
Ilustrasi pengujian sampel di laboratorium. (Foto: CDC/Unsplash)

Nairobi, olnmedia.com – Kementerian Kesehatan Kenya mengonfirmasi kasus kedua penyakit virus Ebola jenis Bundibugyo di negara itu, Rabu (14/10/2026). Pasien merupakan pria berusia 39 tahun yang memiliki hubungan keluarga dekat dengan pasien Ebola pertama di Kenya.

Pria tersebut sudah berada dalam karantina wajib dan pemantauan medis harian ketika mengalami gejala demam, kelelahan, dan nyeri sendi pada Selasa (13/10/2026). Ia segera diisolasi, dan sampelnya dinyatakan positif oleh National Virology Reference Laboratory serta laboratorium KEMRI-CDC. Saat ini pasien menjalani perawatan suportif di pusat perawatan yang ditunjuk.

“Karena ia sudah berada dalam karantina, penyakitnya terdeteksi lebih awal,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Kenya. Kementerian menyebut kedua kasus saling berkaitan dan belum ada bukti penularan di masyarakat yang lebih luas.

Penelusuran kontak

Hingga 13 Oktober, petugas mengidentifikasi 128 kontak dari kasus pertama dan telah menelusuri 113 orang di antaranya. Sebanyak 108 orang menjalani karantina di Kenya dan dipantau selama 21 hari, sementara lima orang berada di luar negeri dan otoritas terkait telah diberi tahu sesuai Peraturan Kesehatan Internasional (IHR 2005). Penelusuran terhadap 15 kontak lainnya masih berlangsung.

READ  Rivalitas Panas: Apa Itu Las Malvinas yang Diungkit Argentina Usai Tekuk Inggris di Lapangan

Kasus pertama adalah warga Kenya yang tinggal di Republik Demokratik (RD) Kongo selama tujuh tahun. Ia menempuh perjalanan darat melalui Beni ke Kampala, Uganda, pada 2 Oktober, lalu terbang ke Nairobi pada 3 Oktober. Pasien tersebut meninggal pada 5 Oktober. “Kenya kini mencatat dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Kenya Patrick Amoth.

Kenya tidak memberlakukan pembatasan perjalanan, perdagangan, maupun kegiatan publik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima notifikasi atas kasus tersebut.

Wabah di RD Kongo

Kasus di Kenya berkaitan dengan wabah Ebola di RD Kongo yang diumumkan sejak Mei. Hingga 13 Oktober, otoritas mencatat lebih dari 9.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 4.000 kematian. Provinsi Ituri menjadi pusat wabah dengan 6.734 kasus dan 3.177 kematian.

Wabah ini disebabkan virus Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang berlisensi. Petugas garis depan di RD Kongo divaksin menggunakan Ervebo, satu-satunya vaksin Ebola berlisensi, meski vaksin itu dikembangkan untuk jenis virus yang berbeda dan efektivitasnya terhadap Bundibugyo belum diketahui.

Sumber: The Kenya Times (14/10/2026); Xinhua (15/10/2026); Euronews (15/10/2026)

Bagikan artikel ini