IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Menjadi 3,1 Persen

Redaksi OLN MediaKamis, 15 Oktober 2026 · 12.33 WIB · 2 menit baca
IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Menjadi 3,1 Persen
Ilustrasi pemberitaan ekonomi dan pasar keuangan. (Foto: Markus Spiske/Unsplash)

Bangkok, olnmedia.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen, dari 3,0 persen pada perkiraan Juli. Proyeksi itu dimuat dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Oktober 2026 yang dirilis Selasa (13/10/2026) dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF–Bank Dunia di Bangkok, Thailand.

Meski naik, angka tersebut masih di bawah pertumbuhan 2025 yang tercatat 3,5 persen. IMF memperkirakan ekonomi dunia kembali menguat ke 3,4 persen pada 2027. Inflasi global diproyeksikan 4,7 persen pada 2026 dan turun ke 4,1 persen pada 2027.

Proyeksi tersebut berasumsi harga minyak rata-rata 96 dolar AS per barel tahun ini dan pengiriman melalui Selat Hormuz kembali berjalan pada Maret.

Proyeksi negara dan kawasan

Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 2,3 persen pada 2026 dan 2027, sementara kawasan euro tumbuh 1,1 persen pada 2026 dan 1,2 persen pada 2027. Ekonomi China diproyeksikan tumbuh 4,5 persen tahun ini, turun dari 5 persen pada 2025, sedangkan India tetap menjadi ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat, yakni 7 persen.

Untuk Asia Tenggara, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan kelompok ASEAN-5, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, menjadi 4,4 persen pada 2026. Angka itu naik 0,3 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.

READ  Siaga Perang: Situasi Timur Tengah Panas Houthi Yaman Tembak Rudal ke Arab Saudi

Secara keseluruhan, negara maju diperkirakan tumbuh 2,1 persen pada 2026 dan 1,9 persen pada 2027. Adapun negara berkembang dan pasar negara berkembang diproyeksikan tumbuh 3,7 persen tahun ini, melambat dari 4,5 persen pada 2025, sebelum naik ke 4,4 persen pada 2027.

Pertumbuhan makin tidak merata

IMF menilai ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) ikut meredam dampak kenaikan harga energi, tetapi manfaatnya tidak merata. Menurut IMF, saat ini 32 negara menyumbang 95 persen pertumbuhan global, padahal pada April jumlahnya masih 54 negara.

“Prospeknya sangat tidak merata,” kata Direktur Riset IMF Silvana Tenreyro.

IMF juga menyoroti sejumlah risiko, antara lain koreksi pasar saham terkait AI, kenaikan imbal hasil obligasi, dan ancaman siber. Lembaga itu mendorong negara-negara memperkuat keuangan publik dan menurunkan utang di tengah tingginya biaya pinjaman.

Sumber: Fortune (13/10/2026); Qatar Tribune (14/10/2026)

Bagikan artikel ini