Protes Sosial di Prancis Memasuki Pekan Ketiga, Jumlah Peserta Menurun

Paris, olnmedia.com – Aksi protes sosial di Prancis memasuki akhir pekan ketiga berturut-turut pada Sabtu (31/10/2026). Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 320.000 orang ikut turun ke jalan di seluruh negeri, termasuk 70.000 orang di Paris.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan 410.000 peserta pada 24 Oktober dan 550.000 peserta pada 17 Oktober menurut data pemerintah. Penyelenggara sebelumnya mengklaim jumlah peserta mencapai 800.000 orang pada masing-masing dua akhir pekan itu. Gangguan transportasi diduga ikut menekan jumlah peserta, dengan lebih dari 40 stasiun metro di Paris ditutup.
70.000 aparat dikerahkan
Pemerintah mengerahkan sekitar 70.000 polisi di seluruh negeri. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez melarang aksi di pusat kota dan hanya mengizinkan unjuk rasa di pinggiran kota, termasuk di Paris, di mana rute aksi dipindahkan ke wilayah timur kota. Nuñez juga memperingatkan perayaan Halloween dapat memicu kerusuhan pada malam hari.
Hingga pukul 14.00 waktu setempat, polisi menangkap 27 orang, jauh lebih sedikit dibandingkan 217 orang pada jam yang sama sepekan sebelumnya. Kementerian Dalam Negeri menyebut situasi secara umum tenang, meski gas air mata sempat digunakan di Lyon dan ketegangan meningkat saat massa membubarkan diri di Paris, Lyon, dan Marseille.
Bermula dari protes pelajar
Gerakan ini bermula pada pertengahan September dari protes pelajar sekolah menengah di pinggiran Paris terkait kondisi bangunan sekolah, kekurangan guru, dan penerimaan mahasiswa baru. Aksi kemudian meluas dan diikuti serikat pekerja serta warga yang memprotes kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar. Serikat pekerja menyebut larangan aksi di pusat kota “umum dan tidak proporsional” dan menyatakan akan menempuh upaya hukum.
Sumber: Euronews/AP (31/10/2026); Euronews (31/10/2026)




