KSSK: Stabilitas Keuangan Triwulan III 2026 Terjaga, Tekanan Meningkat Sejak Oktober

Jakarta, olnmedia.com – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia sepanjang triwulan III 2026 tetap terjaga. Namun, KSSK mencatat tekanan meningkat sejak Oktober 2026 seiring memanasnya konflik geopolitik, naiknya harga energi global, dan arus keluar modal dari pasar saham.
Penilaian itu disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa (3/11/2026), menyusul rapat berkala keempat KSSK pada 28 Oktober 2026. KSSK beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS.
Baca juga: BPS: Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen, Cabai Merah Jadi Pemicu Utama
Rupiah dan IHSG Tertekan
Menurut siaran pers KSSK, rupiah melemah 0,11 persen ke level Rp18.145 per dolar AS pada 2 November 2026 dibanding akhir Oktober. Cadangan devisa tercatat US$146,3 miliar pada akhir September, setara pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan.
Di pasar saham, Katadata mencatat IHSG sempat ditutup di 6.071,14 pada akhir triwulan III, lalu turun ke 5.057,05 pada 30 Oktober atau melemah 16,7 persen sepanjang bulan itu. KSSK menyebut pengumuman MSCI dan pengetatan likuiditas domestik turut membebani pasar. OJK merespons antara lain dengan menurunkan batas auto-rejection bawah dari 15 persen menjadi 7 persen.
Pertumbuhan Diproyeksikan di Atas 5,4 Persen
KSSK memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh di atas 5,4 persen secara tahunan, ditopang permintaan domestik dan ekspor. Indikator yang dirujuk antara lain PMI manufaktur Oktober di level 54,0 serta penjualan mobil yang naik 28,1 persen secara tahunan pada September.
Inflasi Oktober 2026 tercatat 3,23 persen secara tahunan, turun dari 3,28 persen pada September dan masih dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75 persen dan menurunkan rasio Giro Wajib Minimum bank konvensional secara bertahap dari 9 persen menjadi 7 persen per 1 Desember 2026 untuk menambah likuiditas.
Pendapatan Negara Tumbuh 25,5 Persen
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan pendapatan negara hingga September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun, tumbuh 25,5 persen secara tahunan. Penerimaan perpajakan tercatat Rp1.847,7 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau naik 19 persen. “Perkembangan realisasi APBN kuartal III-2026 mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Suahasil, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Sektor perbankan juga dinilai solid dengan kredit tumbuh 13,26 persen menjadi Rp9.245,1 triliun dan rasio kecukupan modal (CAR) 24,30 persen per September. KSSK menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dan mewaspadai risiko global. Rapat berkala berikutnya dijadwalkan pada Januari 2027.
Sumber: Bank Indonesia (Siaran Pers KSSK); Katadata; CNBC Indonesia; ANTARA
Pewarta: Redaksi OLN Media | Editor: Redaksi OLN Media




