Warga Bandung saling bertukar barang dalam gelaran Bersaling Silang yang diinisiasi komunitas Lyfe with Less di Cihampelas Walk, Bandung, Sabtu (27/6).
Jakarta, olnmedia.com Warga Bandung asyik saling bertukar barang pada akhir pekan di pusat perbelanjaan Cihampelas Walk. Mereka membawa pakaian hingga sepatu layak pakai untuk ditukarkan. Komunitas Lyfe with Less menjadi inisiator utama kegiatan unik ini. Acara bertajuk Bersaling Silang ini sukses mengundang antusiasme tinggi dari masyarakat. Pengunjung bisa menukarkan koleksi milik mereka dengan barang bawaan orang lain. Kegiatan ini menjadi wadah edukasi gaya hidup yang ramah lingkungan. Panitia mengenalkan konsep konsumsi sirkular sebagai alternatif budaya hidup konsumtif. Masyarakat perlahan mulai menyadari pentingnya menekan produksi limbah rumah tangga harian.
Pendiri komunitas Cyntia Lestari menjelaskan tujuan utama pergelaran kegiatan ini. Panitia ingin memperpanjang masa pakai sebuah barang melalui mekanisme pertukaran silang. Konsep ini mencegah produk layak pakai langsung berakhir di tempat penampungan sampah. Barang bekas tidak lagi sekadar menumpuk di sudut rumah tanpa fungsi. Seseorang bisa memanfaatkan benda yang sudah tidak berguna bagi orang lain. Siklus pemakaian barang menjadi jauh lebih panjang dan sangat bermanfaat. Edukasi publik ini memegang peran penting untuk menekan laju volume sampah harian.
Panitia menerapkan aturan main yang sangat menarik bagi para peserta. Setiap pengunjung hanya boleh membawa maksimal lima buah barang pribadi saja. Tim kurator akan memeriksa kelayakan kondisi barang tersebut terlebih dahulu. Peserta menerima satu keping token untuk setiap barang yang lolos kurasi. Panitia memanfaatkan tutup botol bekas sebagai alat tukar atau token tersebut. Pengunjung kemudian menggunakan token ini untuk mengambil barang incaran mereka. Barang yang tersedia meliputi pakaian, tas, buku, hingga aneka produk kecantikan.
Cyntia menyoroti fenomena obesitas barang atau penumpukan barang di rumah. Kemudahan belanja daring membuat masyarakat perkotaan menjadi sangat impulsif dan konsumtif. Orang sering kali membeli produk baru hanya demi memuaskan hasrat sesaat. Kebiasaan berbelanja cepat ini memicu sikap kurang menghargai nilai suatu benda. Acara ini mengajak publik memecah siklus beli, pakai, bosan, lalu buang. Masyarakat belajar bahwa memperoleh barang baru tidak selalu melalui transaksi jual beli. Interaksi sosial antarwarga juga semakin hidup lewat aktivitas pertukaran ini.
Gerakan peduli lingkungan ini sudah sukses menyambangi delapan kota besar. Komunitas berencana menggelar acara serupa di berbagai wilayah lainnya. Perluasan jangkauan edukasi ini akan mempercepat perubahan gaya hidup warga. Kesadaran kolektif sangat krusial dalam menghadapi krisis iklim global saat ini. Langkah kecil seperti bertukar barang memberikan dampak positif yang nyata. Semua orang bisa memulai gaya hidup berkelanjutan dari kebiasaan sangat sederhana. Kepedulian kita menjaga kelestarian alam akan mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.

